Analisa Saham TINS | Produsen Timah Besar Tapi Stagnan

Posted by

Analisa Saham TINS | Dalam perdagangan pasar modal di Indonesia, saham yang satu ini dikenal paling ramai. PT. Timah Tbk merupakan salah satu produsen timah di dunia. Di Indonesia, bisa dikatakan emiten pertimahan sedikit, tidak seperti sektor batu bara. Mungkin hanya NIKL yang berada di satu golongan.

Padahal timah sangat dibutuhkan dunia, terutama karena produksi elektronik yang terus menggila. Ke depan konsumsi timah dunia sudah hampir dipastikan akan terus meningkat. Sedangkan cadangannya, semakin sedikit. Logika ini seharusnya menghasilkan konklusi harga saham TINS melesat, tapi kenyataannya tidak bagus-bagus amat. Ada apa?

Oleh sebab itu kami ingin mengulas analisa saham TINS. Dari profil saham TINS, analisa fundamental saham TINS, analisa teknikal saham TINS, prospek masa depan TINS, dan lain sebagainya.

Profil PT. Timah Tbk | TINS

Di website resminya timah.com, TINS merupakan perusahaan yang berdiri sejak 1976. Kemudian melantai di bursa sejak tahun 1995. Yang harus dicatat pula, ini merupakan BUMN yang berada di bawah holding INALUM yang menaungi ANTM, PTBA, dan beberapa perusahaan BUMN lainnya.

Fokus perusahaan ini di Timah, terutama dari eksplorasi, industri, perdagangan juga jasa. Artinya jika berbicara perusahaan timah yang lengkap, hanya TINS. Namun uniknya, perusahaan ini juga mengelola eksplorasi perkebunan seperti lada putih Bangka.

Juga mengelola beberapa perusahaan lain di bidang yang jauh dari timah, yaitu properti dan rumah sakit. Kontribusi dalam pendapatan yang dihasilkan sedikit, tapi memang karakter perusahaan plat merah biasanya demikian.

Di sinilah letak kelemahan yang utama, menurut kami. Tidak seperti MDKA yang fokus di emas, atau mineral lainnya. Perusahaan BUMN biasanya memiliki anak usaha yang lini usahanya berbeda dari induknya.

Analisa Usaha TINS

Pada tahun 2019 TINS berhasil menjadi penghasil timah olahan terbesar di dunia. Angka produksinya meningkat menjadi 76.400 ton. Mengalahkan perusahaan China yang menghasilkan 72.000 timah. Artinya TINS menjadi kiblat dunia (sumber).

Plus kebutuhan timah dunia cukup tinggi sekali. Timah dibutuhkan yang utama untuk elektronik. Yaitu sebagai perekat elemen. Solder, pasti Anda memahami ini. Timah menjadi objek yang disolder sehingga merekatkan elemen elektronik. Masa depan sangat cerah.

Baca: 5 Saham Gocap Fundamental Terbaik

Masalah di Industri Timah

Seharusnya harga acuan timah juga berasal dari Indonesia. Atau terpengaruh dengan Indonesia. Tapi kenyataaan tidak selalu demikian. Meskipun Indonesia termasuk produsen terbesar. Lagi-lagi persoalan birokrasi. Di sinilah titik lemah utama.

Dikutip dari portonews.com, ada persoalan mendasar tentang pertimahan. Yaitu dualisme bursa yang memperdagangkan timah. Yaitu BKDI dan JFX. Padahal JFX memiliki lisensi untuk penjualan emas dan kopi. Namun karena menggiurkan, 2018 masuk ke pasar timah.

Tapi imbasnya ada dualisme penentuan harga acuan. Sehingga pasar pada akhirnya bisa jadi mengacu pada secondary market. Di sinilah mengapa pada akhirnya justru merugikan. Maka meskipun perjalanan perusahaan ini sangat panjang. Tapi seperti tidak menemukan titik yang benar-benar cerah.

Padahal komoditas yang demikian sangat bergantung dengan penentuan harga pasar. Jika naik, sudah bisa dipastikan akan naik pula pendapatan. Padahal biaya produksi tidaklah murah.

Oleh sebab itu langkah yang diambil adalah pembatasan ekspor, 2019. Dengan pola ini maka harga dunia bisa terpengaruh (kontan.co.id). Usaha ini cukup tepat. Namun demikian usaha ini juga belum terlihat hasilnya.

Analisa Fundamental Saham TINS

Jika ingin berinvestasi tentu harus melakukan analisa fundamental saham TINS. Terutama dan paling mudah adalah faktor laba rugi. TINS adalah adalah perusahaan yang cukup unik.

Berdasarkan data IPOT, laba bersih TINS fluktuatif sekali. Di tahun 2014 mencetak laba 638 milyar, di tahun berikutnya turun drastis, hanya sekitar 101 milyar. Tahun 2016 naik dua kali lipat 251, sedangkan tahun selanjutnya 775 milyar.

Terakhir di tahun 2019 justru rugi 611 milyar. Padahal kalau kita lihat harga timah dunia, fluktuasinya tidak sedahsyat batu bara, atau CPO. Naik turun tidak begitu drastis. Seharusnya justru tidak separah ini. Bandingkan dengan emiten NIKL di tahun 2019 yang justru untung 37 milyar.

Di sinilah patut menjadi perhatian. Padahal pendapatan TINS di tahun 2019 naik 75%, 19 triliun. Bandingkan dengan tahun 2018 yang hanya 11 triliun tapi untung 132 milyar.

analisa saham tins
ilustrasi dari pixabay.com

Jawabannya adalah beban pokok yang membengkak. Tidak tanggung-tanggung, naiknya beban pokok senilai 82% dibanding tahun sebelumnya. Fuh. Di sinilah mengapa TINS yang seharusnya moncer, justru jeblok.

Yang juga patut diperhatikan adalah hutang yang dimiliki TINS. Setiap tahun sejak 2014 hutangnya terus bertambah, baik jangka pendek ataupun jangka panjang. Dari total 2.3 triliun di tahun 2014 menjadi 9 triliun di tahun 2018. Bahkan di tahun 2019 menjadi 15 triliun (IPOT). Di sinilah aspek yang paling membahayakan. Rasio DER lebih dari 2.

Bahkan bisnis.com mengulas khusus tentang hutang ini dan mengangkat dengan judul utang dan pembengkakan rugi menghadang kinerja TINS. Sehingga hal ini patut menjadi perhatian penting untuk para investor. Bahkan kinerja tahun 2019 terbebani salah satunya karena memiliki beban bunga yang harus diselesaikan.

Rasio TINS Kurang Memuaskan

Analisa saham TINS selanjutnya pada aspek rasio saham. Kemampuan menghasilkan laba dari modal yang dimilikinya. ROE saham TINS berada pada angka yang rendah di dua tahun terakhir, hanya 2.1% (2018), sedangkan di tahun 2019 justru minus 11.6%. Menyedihkan.

Sedangkan NIKL berada di angka 5.8% (2019). Tentu lebih baik. Saham TINS terlalu sedikit. Mirip dengan saudaranya ANTM yang hanya 1.07% di tahun 2019.

Yang membahayakan adalah DER dari TINS. Rasio hutangnya di stockbit mencapai 1.8. Sebagai investor kami tidak merekomendasikan. Dalam keadaan yang sangat sulit hutangnya cukup mengkhawatirkan.

Kami mentoleransi DER di angka 1. Lebih dari itu hati-hati. Lebih dari 1.5 tidak direkomendasikan. ANTM meskipun rugi DER masih di angka 0.4. Sedangkan NIKL masih di angka 1.3. Maka di tahun 2019, kinerja TINS banyak terbebani hutangnya.

Histori Saham TINS | Analisa Teknikal Saham TINS

Analisa teknikal saham TINS akan melihat histori saham TINS. Dari dulu awal mula IPO hingga tulisan ini dibuat, pola saham TINS sama. Naik turun dengan konsisten. Selalu di kisaran 400-1600-an. Ya berputar-putar di angka itu. Kalau sudah mencapai di atas 1600 akan turun. Kalau sudah menyentuh 400 akan naik.

Sehingga secara psikologis, harga TINS berada di angka 850. Artinya kalau sudah di atas itu ada potensi naik tapi pelan-pelan. Tapi kalau di bawah itu bisa diambil. Potensi naiknya besar.

Saat tulisan ini dibuat harganya sudah berada di 790. PBV di stockbit menyatakan 1.2. Biasanya perusahaan mineral yang demikian bisa mencapai 1.5%. Harga wajarnya 646.

Deviden TINS Kecil

Untuk deviden TINS juga tidak terlalu bisa diharapkan. Di tahun 2019 membagikan deviden tahun buku 2018 sebesar Rp24.7 perlembar saham. Sedikit. Nilainya 35% dari total laba bersih.

Jauh jika dibandingkan dengan PTBA jika ingin mengharap deviden. Bahkan sama AUTO saja masih kalah. Lalu apa yang diharapkan? Hehehe

Prospek Saham TINS 2021

Tapi bagaimanapun dalam dunia pasar modal, saham, selalu ada yang diharapkan dari sebuah emiten. Pertama, sebenarnya secara prospek dunia kebutuhan timah tentu tinggi. Tapi kalau melihat tahun 2019 dan 2020, menurut kami masih suram. Lebih mending sektor coal atau CPO.

Harga timah dari 2016 hingga sekarang naik turunnya dikit. Segitu-gitu saja. Bisa dilihat di investing.com. Artinya jika meraup untung besar, diprediksi sangat sulit. Membalik dari rugi ke untung saja sudah bagus.

Plus sentimen negatif dari keadaan covid-19 yang tentu saja membuat penurunan permintaan. Karena hampir semua pasar jeblok. Lebih baik alihkan ke sektor energi utama. Masih ada gregetnya. Hehehe.

Namun kalau secara jangka panjang, prospek tembaga di tahun 2021 dan 2022 kami meyakini lebih baik dari sekarang. Elektronik semakin banyak, kebutuhan tembaga semakin naik.

Masalah lain adalah manajemen pengelolaan yang kurang bersahabat. Hutangnya tinggi. Kami secara pribadi menjauh dari saham yang seperti ini kecuali berada di harga 400, kami mau masuk. Heheheh.

Kesimpulan Analisa Saham TINS

Dari analisa yang kami lakukan intinya lebih baik saham ini untuk trader saja. Naik turun dinikmati. Hehehe. Kalau untuk investor, kami tidak merekomendasikan. Tapi ini pendapat pribadi, bisa banyak salahnya lho ya.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *