Kurikulum Pesantren Yang Ideal Mulai Dilupakan

Posted by

Kurikulum pesantren yang ideal menjadi pertanyaan besar bagi semua kalangan. Terutama bagi wali murid yang ingin memasukkan anaknya ke pesantren. Memilih mana yang paling baik, dan paling sesuai untuk anaknya.

Sayangnya banyak pondok pesantren melupakan kurikulum pesantren yang ideal, karena lebih banyak memilih untuk menjawab tuntutan zaman. Padahal menghasilkan output yang biasa, tapi tidak istimewa. Karena itulah kita akan ulas lebih jauh berdasarkan pengalaman mengamati banyak pesantren.

Kurikulum Pesantren

Kurikulum pada hakikatnya adalah sebuah jalur, atau lintasan yang harus diikuti peserta pendidikan agar mencapai tujuan program yang diinginkan. Maka ada kurikulum pendidikan karakter, kurikulum pesantren dan lain sebagainya.

Kurikulum dibentuk dari susunan pembelajaran, yang terangkum dalam sebuah paket yang diajarkan kepada siswa. Di pesantren kurikulum tidak hanya terbatas pada aspek di dalam kelas, tapi menjadi kesatuan dengan di luar kelas. Sehingga menjadi integrated kurikulum.

Kurikulum Pesantren Yang Ideal

Kurikulum Pesantren Saat Ini

Kurikulum pesantren saat ini lebih cenderung akomodatif. Maksudnya adalah bagaimana keinginan masyarakat terpenuhi semua di dalam pondok pesantren. Baik dalam aspek di dalam kelas, atau di luar kelas. Sehingga pendidikan yang berjalan cukup kompleks.

Contoh hampir semua pondok pesantren saat ini memiliki program tahfidz Quran yang diwajibkan kepada santrinya. Meskipun mungkin targetnya tipis-tipis, misalkan satu tahun satu juz. Sehingga prinsipnya paling tidak memiliki hafalan.

Yang kedua hampir semua pesantren memiliki program bahasa arab dan inggris. Seolah menjadi menjadi sebuah kewajiban bagi masing-masing pesantren. Dengan harapan bisa menghadapi tantangan peradaban global di masa yang akan datang.

Namun demikian kurikulum pesantren yang ideal menurut kami tidaklah demikian. Ketika banyak aspek dicampur menjadi satu, justru pada akhirnya santri tidak mendalami pendidikan tersebut dengan baik. Hanya sebatas tahu saja.

Contoh program bahasa arab dan inggris, banyak pesantren yang mencantumkannya, tapi tidak semua menjalankannya dengan baik. Hanya dipelajari, tapi tidak menjadi komunikasi harian. Sebabnya adalah beban santri menjadi terlalu banyak.

Komponen Penting Pendidikan di Pesantren

Di pesantren pada hakikatnya memiliki beberapa komponen penting pendidikan. Pertama adalah pendidikan agama, atau ulum syar’i. Ini menjadi ciri utama pendidikan di pesantren. Kedua adalah pendidikan formal. Bisa dalam bentuk kurikulum nasional.

Selanjutnya adalah pendidikan di luar kelas, atau peningkatan karakter. Pendidikan ini biasanya dalam bimbingan kyai atau ustadz, atau mudabbir yang menekankan karakter. Inilah tiga komponen utama pendidikan di pesantren.

Santri ketika mendapatkan tiga komponen ini sudah cukup berat. Apalagi jika ditambah komponen yang lain lagi. Sehingga menjadikan beban santri cukup besar. Maka seringkali ada yang mengatakan santri tidak kuat di pondok. Ya memang ada pesantren yang beban pendidikannya banyak sekali.

Kurikulum Pesantren Yang Ideal

Lalu bagaimana kurikulum pesantren yang ideal? Kita pasti ingat kurikulum pesantren zaman dulu yang mampu bertahan hingga sekarang, rata-rata sederhana, tidak terlalu banyak instrument tapi mendalam. Hasilnya banyak yang menjadi tokoh, kyai, dan lain sebagainya.

PanduanTerbaik.id

Ambil contoh Pesantren Sidogiri Pasuruan. Pesantren ini memiliki kurikulum diniyyah yang kuat. Mulai dari tingkat shifr, atau nol, hingga tingkat paling tinggi. Ilmu alat, shorf dan nahwu dikuasi dengan baik. Sehingga orang mengenal jika alumni Sidogiri memiliki ilmu agama yang kuat.

Sedangkan di luar kelas, ada pendidikan akhlaq melalui pendampingan kyai. Sehingga memiliki karakter yang tawadu’, rendah hati, meskipun ilmunya tinggi. Apakah kemudian bahasa inggrisnya kuat, biasa saja. Karena memang identitasnya demikian.

Contoh lain adalah Gontor Ponorogo yang bisa dijadikan rujukan kurikulum pesantren yang ideal. Kurikulumnya sudah menggabungkan antara formal dan diniyyah, tapi yang pendidikan formal hanya yang penting-penting saja. Tidak semuanya. Sehingga bisa proporsional.

Adapun di luar kelas, pendidikan karakter pemimpin bermodel organisasi dan bahasa cukup kuat. Tapi unsur seperti tahfidz Quran, tidak menjadi prioritas, karena hal tersebut sudah cukup penuh. Identitasnya adalah santri mendalami agama, mampu bahasa arab dan inggris. Jadi sederhana. Tidak banyak instrumen.

Bagaimana dengan pesantren yang fokus tahfidz Quran. Maka kita mengenal banyak pesantren seperti Yanbu’ Kudus, Darul Hikam Mojokerto, atau Muqaddasah Ponorogo. Masing-masing porsi besarnya fokus pada tahfidz Quran.

Pendidikan formal ada tapi tidak dominan, bahasa inggris, ada tapi juga tidak mendominasi. Diniyyah juga ada tapi secukupnya. Tidak bisa semuanya seimbang. Maka dikenal sebagai penghasil hafidz Quran yang mutqin sebanyak tiga puluh juz.

Oleh sebab itu menurut kami kurikulum pesantren yang ideal adalah ketika pesantren tersebut fokus pada satu atau dua tujuan. Jika semua elemen kurikulum diambil, maka hasilnya pesantren tersebut pada akhirnya minim identitas.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *