Analisa Saham PGAS | Menunggu Kebijakan Yang Merugikan

Posted by

Analisa saham PGAS | Siapa yang tidak mengenal perusahaan gas negara (PGN), semua tahu dan semua memakai produknya. Orang Indonesia tahunya gas itu yang PGN. Tidak ada yang lain. Oleh sebab itu perusahaan ini sangat familiar di masyarakat.

Begitu pula dalam persoalan sahamnya. Rata-rata para investor mengetahui prusahaan ini, kode sahamnya PGAS. Selalu ramai ditransaksikan dengan kapitalisasi pasar lebih dari 30 Triliun. Dengan kata lain sangat besar sekali.

Namun dari harga, khususnya dalam 5 tahun terakhir cenderung flat. Berputar-putar di angka 1.500-2000. Ada apa? Turun banget ya tidak, naik perlahan juga tidak. Oleh sebab itu kami ingin melakukan analisa saham PGAS. Analisa ini meliputi fundamental, histori saham, analisa teknikal, prospek PGAS di tahun 2021, 2022, dan seterusnya.

Profil Perusahaan Gas Negara | PGAS

Ini merupakan perusahaan pemerintah BUMN. Fokusnya segala sesuatu tentang gas. Mulai dari bisnis hulu, transportasi gas, hilir, fasilitas floating storage, rekayasa teknik, hingga Liquified Natural Gas (LNG).

PGAS juga tidak memiliki pesaing. Dulu masih ada Pertagas, kemudian sekitar 2018 diakuisisi dengan membeli 51 persen saham PT Pertamina Gas (Pertagas). Maka mulai saat itu PGAS adalah pemain tunggal. Tapi justru di sini akan menarik. Kami akan jelaskan berikutnya.

Secara saham perusahaan ini mayoritas dimiliki oleh pemerintah. Publik hanya 43.04%. Yang menarik dari komposisi publik individu hanya 3.7%. institusi 39.34%, dari jumlah yang institusi ini justru asing yang banyak menguasai 27%. Asing menyukai prospek jangka panjang.

Analisa Fundamental | Laba Rugi PGAS

Jika kita ingin investasi, maka analisa saham PGAS yang pertama adalah aspek laba rugi. Perusahaan ini dari tahun 2014 hingga 2019 belum pernah merugi. Sama seperti PTBA, perusahaan plat merah lainnya. Namun persoalannya hanya seberapa besar fluktuasi laba yang dimilikinya.

Uniknya adalah perusahaan ini justru di tahun 2014 meraih laba cukup besar, sampai 9 Triliun. Tapi selepasnya selalu turun. 2015 menjadi 5.5 triliun, 2016 menjadi 4.1 triliun, 2017 lebih parah menjadi 1.9 triliun. Naik lagi di tahun 2018 menjadi 4.4 triliun. Yang pada akhirnya jeblok di tahun 2019 menjadi 939.5 milyar (ipot).

Analisa saham PGAS
sumber: Pixabay.com

Kok bisa PGAS seperti demikian? Padahal pelanggannya selalu bertambah setiap tahun, logikanya harusnya terus naik.

Dari sisi pemasukan, mengutip laporan Q1 2019, paling banyak dari penjualan gas, $ 1.3 miliar, kemudian minyak dan gas $ 196 juta, selanjutnya adalah transmisi gas $ 163,4 juta, pendapatan lainnya $ 97,19 juta.

Sebabnya penurunannya adalah penurunan pendapatan. PGAS tidak hanya menyuplai rumah tangga. Tapi juga menyuplai kebutuhan perusahaan. Sehingga ketika keadaan ekonomi global kurang bagus, PGAS akan terpengaruh. 2019 adalah tahun yang cukup berat untuk ekonomi global. Sehingga banyak perusahaan terkena imbasnya.

Penyebab Turunnya Kinerja PGAS

Sebenarnya secara pendapatan di tahun 2019 berbeda tipis dengan 2018. 2019 di angka 3.84 miliar dolar, sedangkan 2018 mendapatkan 3.87 miliar dolar. Tipis banget. Tapi secara laba, anljloknya kebangetan. Sampai sekitar 70% lebih.

Dari tagar.id penyebabnya lebih kepada kenaikan beban tinggi dalam beberapa hal. Pertama adalah beban keuangan 12.4%. Kedua penurunan nilai aset tetap dari nol menjadi 98 juta dolar. Kemudian provisi sengketa pajak dari nol menjadi 127 juta dolar. Gila.

Di sinilah penyebab kinerja PGAS menjadi ambrol. Bisa dikatakan karakter perusahaan BUMN yang kurang efektif dan efisien juga melekat pada perusahaan gas yang satu ini, karakteristiknya mirip dengan ANTM. Sehingga patut menjadi pertimbangan para investor jika ingin berinvestasi jangka panjang.

Hutang PGAS Yang Perlu Diwaspadai

Menurut kami bagi siapa saja yang ingin masuk sebagai investor, kalau trader ya berbeda, maka perhatikan sisi yang satu ini. Hutang PGAS dari tahun ke tahun. Sejak tahun 2014 pinjaman jangka pendeknya 1.1 triliun, sedangkan jangka panjang 22.6 triliun (IPOT).

Namun di tahun 2019 utang jangka pendek sudah menjelma menjadi 15.6 tiliun, sedangkan jangka panjang menjadi 41.9 triliun. Gila. Bahkan di awal tahun 2020 sudah naik lagi, jangka pendek 21.1 triliun, sedangkan jangka panjang sudah 55.1 triliun.

Mari kita lihat rasionya. Di 2014, DER hanya di angka 0.6. Sedangkan di tahun 2019 sudah mencapai 1.42. Tentu angka yang demikian sangat berpengaruh pada laba. Karena ada beban untuk melunasi hutang dan akan menggerus pendapatan bersih. Bagi kami yang aman di bawah 0.5. Masih toleransi di bawah 1. Tapi kalau sudah lebih besar dari ekuitasnya, bahaya.

Masalah Utama PGAS

Jika kita melihat ulasan di atas, maka masalah besar PGAS ada dalam perusahaan itu sendiri. Tapi sebenarnya ada yang lebih besar dan perlu dijadikan bahan pertimbangan. Yaitu masalah kebijakan pemerintah.

Di tahun 2020 pemerintah mengeluarkan permen ESDM nomer 8 tahun 2020. Intinya tentang penetapan penggguna dan harga gas bumi di bidang industri. Artinya harga ditentukan oleh pemerintah, tidak ditentukan oleh pasar.

Maka, sudah maklum ketika pemerintah ingin menggeliatkan industri, salah satu yang harus ditekan adalah bahan bakar. Di antaranya gas. Oleh sebab itu dalam jangka waktu sekitar lima tahun lebih, harga saham gas mandeg, karena harga gas pun disitu-situ aja. Tidak ada seninya. Hehehe.

Bahkan di tahun 2020 awal, harga gas industri ditetapkan $6 per MMBTU, dari permen ESDM tadi. Efeknya harga jual turun, plus pendapatan turun (bisnis.com). Kami ingat betul, waktu itu kami juga memegang saham PGAS. Rontok seketika. Dilego oleh asing sangat banyak.

Inilah masalah utama, bukannya naik, harga jual malah turun.

Dari bisnis.com, Direktur Keuangan PGN, Arie Nobelta Kaban, menyatakan bahwa implementasi permen tersebut akan menurunkan pendapatan hingga 21%. wowow. Efeknya secara jangka panjang sangat berat.

Maka tunggu kebijakan harga dinaikkan walau sedikit. Meskipun mungkin akan berimbas pada industri, tapi harga saham PGAS akan terbang. Maka analisa saham PGAS kami beri judul menunggu kebijakan yang merugikan.

Histori Saham PGAS

Analisa saham PGAS selanjutnya adalah histori saham PGAS. Dalam lima tahun terakhir, tren PGAS cenderung turun. Posisi September2015 berada di harga 2.900, saat tulisan ini dibuat 1.340.

meskipun di tahun 2018 PGAS mengalami kenaikan pendapatan, tetap tidak bisa mengangkat harga saham secara signifikan. Sepertinya investor sudah membaca bagaimana prospek PGAS. Sehingga investor belum berkenan masuk berbondong-bondong dan memegang jangka panjang.

Di tahun 2020 harga sahamnya sangat terpukul selama 3 x. Pertama kenyataan bahwa PGAS jeblok kinerjanya. Kedua karena PGAS terpukul oleh permen yang menetapkan harga gas indsutri yang mengakibatkan penurunan harga. Terakhir adalah covid-19 yang hancurkan semuanya.

Namun secara psikologis saham ini berada di angka 1.800. menemukan saham di bawah itu sangat layak diambil. Tapi diatas itu dengan kinerja seperti sebelumnya, rasanya tidak cocok untuk diambil.

Saat tulisan ini dibuat PBV masih di 0.76. Cukup Valuable. Di harga 1.340. Normalnya PGAS biasanya di PBV 1.2 hingga 1.5. Anda bisa memungutnya perlahan-lahan untuk akumulasi jangka panjang.

Prospek PGAS di Tahun 2021, dan 2022

Kalau dilihat secara prospek, tentu PGAS mempunyai prospek yang cukup cerah. Pemain tunggal, kebutuhan banyak orang. Selalu untung. Tapi kalau bicara saat ini menurut kami kurang bergairah.

Terutama karena kebijakan pemerintah. Sayangnya menunggu kebijakan lebih sulit daripada menunggu kinerja. Karena sulit diprediksi kapan. Kata kuncinya hanya kebijakan harga jual berubah, saham ini terbang.

Namun jika Anda investor, saat sekarang memang saat yang paling tepat untuk koleksi saham ini. Harganya masih murah. Namun jika investor jangka panjang, perhatikan terlebih dahulu faktor DER dari perusahaan ini. Kalau turun, masuklah. Tapi kalau tetap segitu, dalam keadaan seperti sekarang hutang akan menjadi beban besar.

Kesimpulan Analisa Saham PGAS

Ada dua kata kunci dari PGAS. Bukan masalah konsumen, tapi pertama adalah kebijakan pemerintah. Sedangkan yang kedua adalah faktor hutang perusahaan baik jangka pendek atau jangka panjang.

Paling tidak jika penanganan terhadap hutang sudah baik, menurut kami bisa masuk untuk jangka panjang. Kemungkinan di tahun 2022 bisa di angka 3000. Tapi kalau masih seperti sekarang. Mungkin patut hati-hati.

Semua hanya prediksi. Yang terjadi bisa sebaliknya. Ini pendapat sangat subjektif. Diclaimer on. Diskusi saham bisa di affany1986@gmail.com, berbayar.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *