Branding sekolah

Panduan Menemukan Identitas Branding Sekolah dan Pesantren

Posted by

Panduan menemukan identitas branding sekolah dan pesantren adalah tahap awal sebelum melakukan kegiatan branding itu sendiri. Karena identitas itulah yang nantinya disampaikan kepada calon pengguna sekolah.

Identitas sekolah artinya bukan sebatas nama, tapi sifat yang menyertainya dan dikenal dengan baik. Di saat branding sekolah dan pesantren berjalan, identitas ini harus terbukti. Ini yang sulit. Maka tidak sebatas asal comot begitu saja. Justru ketika tidak terbukti, nama lembaga pendidikan akan buruk dan sulit untuk mengembalikannya.

Apa Itu Identitas dalam Branding Sekolah dan Pesantren

Paling mudah memahami identitas dalam branding adalah satu kata yang menyertai, namun membuat pembeda di antara yang lainnya. Contoh sederhana Sekolah Pelayaran, orang memahami bahwa ini sekolah berbeda.

Tapi pertanyaannya apakah cukup? Dalam branding hal itu masih belum cukup, karena sekolah pelayaran jumlahnya banyak. Maka ikutkan satu kata yang menjadi pembeda. Contoh Sekolah Pelayaran Religius. Ini identitas yang membedakan sekolah tersebut dengan sekolah pelayaran yang lainnya.

Sekolah pelayaran yang begitu sangar dari cara berpakaian justru tampil berbeda dengan sisi agama yang kuat. Maka menjadi penggugah calon konsumen.

Namun identitas ini bukan tagline, jargon, atau moto, karena harus dirangkai terlebih dahulu dengan kata-kata yang menarik. Namun yang terpenting adalah Anda sudah menemukan pembeda tersebut dari yang lainnya.

Dengan kata lain Anda sudah punya identitas penguat. Sama dengan yang lain, tidak masalah. Karena tidak mungkin benar-benar berbeda. Namun paling tidak di satu kota, identitas Anda berbeda dengan yang lain. Kalau satu provinsi ada yang sama wajar. Apalagi satu Indonesia.

Menggali Identitas dari Pendiri

Untuk menggali identitas seringkali sekolah bingung dari mana memulai. Tips paling sederhana bisa ditemukan dari para pendiri. Pasti para pendiri sekolah atau lembaga pendidikan memiliki alasan mengapa mendirikan sekolah dan pesantren tersebut.

Atau sederhananya cita-cita luhur para pendiri. Dicari dari jejak, atau catatan-catatan lainnya. Diminta bercerita, Anda mendengarkan untuk memeras intisarinya. Misal, saya pernah menggali dari pesantren di Lamongan. Saya menemui kyainya, ia bercita-cita mendirikan pesantren tahfidz Quran gratis. Namun karena belum bisa maka paling tidak biayanya murah.

Masalahnya murah di era millenial bukanlah identitas kuat. Justru cenderung meragukan. Harus ada identitas lain tambahan. Kemudian saya gali cerita lagi, ternyata ada pendidikan SMK, ada otomotif. Maka saya menulis di Internet Pesantren Tahfidz Quran Otomotif.

Harus digali menjadi sesuatu yang istimewa. Paling tidak ini adalah tahap mengenalkan. Entah yang dikenal nantinya tahfidz Qurannya, atau justru SMK-nya.

Menggali Identitas dari Konsumen

Ada trik lain dalam menggali identitas sebagai bahan branding. Yaitu menggali dari konsumen atau pengguna dari sekolah itu sendiri. Dapatkan dari cerita mereka. Tanyakan, “Menurut ibu sekolah Al Faiz ini bagaimana?”

Pasti dia akan cerita panjang lebar dari A sampai Z. Ambil sendiri kesimpulan. Tanyakan lagi ke konsumen lainnya. Tugaskan orang yang biasa menulis. Karena identitas di kepala konsumen tidak mudah digeser. Jangan terlalu radikal dengan mengubah total.

Contoh pesantren Sidogiri, setahu kami tidak ada identitas khusus. Tapi terlanjur melekat di santri-santri dan wali santri bahwa pesantren tersebut adalah rumahnya kajian mendalam kitab kuning. Ini yang pada akhirnya tertancap di pikiran. Mau ngaji kitab kuning, Sidogiri.

Menemukan Kata Kunci dari Branding Sekolah dan Pesantren

Jika masih bingung dengan penjelasan di atas, maka gunakan kata-kata yang istimewa. Contoh berkualitas, berbudi, berakhlaq, modern, komunikatif, merdeka, dan lain sebagainya. Cari kata-kata yang memang sesuai dengan sekolah atau pesantren Anda.

Gunakan pula kata ‘yang’ ketika menyusun. Sehingga lebih mudah. Sekolah yang bagus, sekolah yang berbudi, sekolah yang modern. Unsur menjadikan penyusunan identitas jauh lebih mudah.

Jangan terjebak dengan kata-kata yang sedang populer. Misal sedang populer millenial, maka menggunakan kata itu. Padahal identitas akan digunakan dalam jangka waktu yang panjang, maka pikirkan

Identitas Adalah Yang Kita Bisa

Ketika sudah menemukan identitas tersebut, jangan buru-buru publikasi. Karena ketika sudah publikasi dan ternyata gagal untuk mewujudkan, itu sama saja menggali kesalahan sendiri. Maka periksa identitas tersebut dengan kemampuan di internal lembaga pendidikan.

Harus sesuatu yang memang bisa dilaksanakan dan terwujud. Jangan sebatas jargon semata. Contoh sekolah berbahasa Inggris, apakah benar-benar diimani oleh para guru. Tandanya mereka berbicara bahasa Inggris dengan lancar, atau berusaha berbicara bahasa Inggris.

Maka identitas sekolah adalah yang mampu dilakukan oleh sekolah tersebut. Misalkan guru-guru mampu mengajar sekaligus mengajarkan Al Quran, maka sekolah berbasis Al Quran. Rutin setiap hari mengaji. Kemudian ada internalisasi nilai-nilai dari Al Quran melalui kajian.

Contoh yang lain sekolah kreatif, maka harus diperiksa apakah guru-guru yang ada di dalamnya juga memiliki kreativitas. Apakah sekolah memberikan kebebasan secara waktu, dan fasilitas untuk tumbuh kembangnya minat dan bakat siswa. Maka periksa baik-baik.

Sosialisasi Identitas Sekolah dan Pesantren di Internal

Ketika identitas itu sudah ditemukan, maka langkah pertama yang harus dilakukan adalah sosialisasi di internal. Sehingga semua elemen di internel mengimani, plus mengamini. Tidak sebatas tahu saja.

Dalam aspek ini sangat bagus jika meniru pesantren. Identitas pesantren selalu diwujudkan dengan nilai. Contoh Gontor, salah satu identitas modern yang diwujudkan dalam bentuk nilai adalah filosofi “Jadilah ulama yang intelek bukan intelek yang tahu agama”.

Sosialisasinya benar-benar brutal. Dari pesan dan nasehat pimpinan pesantren yang setiap hari digaungkan. Di masjid, di pertemuan, di perbincangan. Sampai kemudian di tulis dengan bagus dan ditempel di dinding-dinding utama gedung.

Akhirnya semua mengimani dan mengamalkan identitas tersebut diwujudkan dalam kegiatan keseharian. Inilah dasar branding yang harus dilakukan bersama-sama satu sekolah. Tanpa ada identitas, branding seperti sayuran tanpa garam, ada iklan tanpa gambar.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *