7 Cara Ekstrim Agar Anak Betah di Pesantren

Posted by

Agar anak betah di pesantren | Paling pusing kalau punya anak sudah diberangkatkan ke pesantren, biaya mahal sudah dibayar, tahu-tahu tidak betah dan minta pulang. Masalahnya tidak hanya persoalan biaya, tapi juga jarak yang jauh. Maka banyak yang ingin tahu bagaimana agar anak betah di pesantren.

Apa yang kami tulis berdasarkan tiga pengalaman. Pengalaman menjadi santri selama enam tahun di pesantren Gontor yang dikenal memiliki disiplin sangat ketat. Kedua pengalaman mendampingi keponakan di pesantren. Ketiga mendampingi wali santri.

Oleh sebab itu kami menulisnya dengan sebutan cara ekstrim agar anak betah di pesantren. 

Anak Betah di Pesantren Faktor Orang Tua

Percaya atau tidak rata-rata faktor pertama yang membuat anak tidak betah di pesantren justru orang tuanya. Maksudnya persoalan keikhlasan dalam melepas anak ke pondok pesantren. Benar-benar tulus untuk membiarkan anak menuntut ilmu dan tinggal mendoakan.

Masalahnya adalah seringkali justru salah satu orang tua masih berat melepas. Akibatnya timbul rasa kangen berlebih, ditelpon terus, anak pun akhirnya terbawa. Kami pernah menemukan seorang ibu yang betul-betul ingin anaknya masuk pesantren.

Tapi keluarga suaminya justru yang tidak tega, kasihan nanti demikian, nanti makannya tidak enak. Akhirnya suaminya juga terbawa rasa tidak tega. Nah karena ikatan batin antara anak dan orang tua begitu kuat, akhirnya yang di pesantren pun terketuk hatinya. Juga ingin pulang.

Maka seringkali disampaikan, yang rewel sebenarnya bukan anaknya, tapi orang tuanya. Hehehe, maaf ya.

Cara Ekstrim Agar Anak Betah di Pesantren Diputus

Cara kedua agar anak betah adalah jangan dihubungi di awal-awal masukkan anak ke pesantren. Kejam sekali. Bukan kejam, tapi agar anak menyatu dengan suasana baru, dengan teman-teman. 

Bahkan cara paling mudah adalah tidak menghubungi sama sekali anak selama tiga bulan pertama. Jangan khawatir kelaparan, sudah ada makan yang disediakan. Tapi biarkan anak tersebut menemukan keluarganya dalam bentuk teman-teman satu kamar satu kelas.

Pasti di awal nangis, itu sudah biasa. Tapi kalau sudah lupa rumah, menyadari bahwa ada banyak teman di sekelilingnya, maka dia sadar bahwa suasana nyaman adalah ketika memiliki banyak teman. Orang tua juga harus kuat. Biasanya sama-sama nangis kok. Hehehe.

Sedikit Banyak Teman di Pesantren

Faktor selanjutnya agar anak betah di pesantren adalah seberapa banyak teman yang sudah dikenal. Pesantren tempat berkumpulnya banyak anak. Seperti hidup di masyarakat, seberapa banyak yang dikenal akan menjadi nyaman.

Oleh sebab itu pada waktu datang, ajarkan anak untuk berkenalan dengan teman sekamar. Itu penting. Saya waktu pertama kali datang ke pesantren juga demikian, disuruh kenalan dengan teman satu kamar. Tidak mudah lho. Tapi dari situ mulai punya banyak teman.

Saya pun punya pengalaman memiliki keponakan yang setiap hari di masjid saja. Orang tuanya senang, tapi bagi saya ini masalah besar, karena anak tidak punya banyak teman. Saat yang lain main bola, dia di masjid, yang lain lari-lari, dia masih di masjid.

Akhirnya dia pulang dari Gontor karena tidak betah, sudah saya tebak.

Dikunjungi dan Dikunjungi

Kalau tadi masalah orang tua tidak ikhlas melepas. Ini faktor orang tua terlalu sayang. Jadi setiap seminggu sekali dikunjungi. Bahkan dulu pernah saya lihat ada yang ibunya datang sampai dua minggu di pesantren. Maklum orang kaya, biaya bukan masalah. 

Namun pada akhirnya meski berada di pesantren, suasana yang dirasakan sang anak masih di rumah, karena ibunya selalu di hadapannya. Akhirnya lama-lama selalu merasa nyaman dengan ibunya. Teman saya pun minta pulang. Padahal semua bisa dihindari. Harus tega.

Apalagi kalau dijenguk ternyata anaknya minta sang ibu pulang, itu artinya dia sudah betah. Anda jangan terus di pesantren, harus pulang.  

Obral Cerita Agar Betah di Pondok  

Nah ini yang kadang dilupakan, terkadang meski sudah betah, tapi terlalu banyak cerita tentang keadaan indah di rumah. Entah kondisi keluarga yang sering piknik lah, atau kondisi teman-temannya yang sudah sekolah ini itu.

Pokoknya ajak anak cerita tentang keadaan pesantren. Begitulah cara agar anak betah di pesantren. Tanya saja terus agar dia senang. Kalaupun dia bertanya tentang cerita di rumah, ya cerita sewajarnya jangan terlalu berlebihan. Apalagi masih satu tahun pertama.

agar anak betah di pesantren

Uang Juga Penting

Kalau yang satu ini menurut saya semuanya sudah paham. Mohon dimaklumi kalau anak pertama kali di pesantren sedikit boros. Karena memang masih penyesuaian. Biasanya banyak jajan. Belum pintar juga mengatur uang.

Masalahnya kalau anak kehabisan uang. Tidak semua pintar pinjam uang lho. Dulu saya sampai pinjam ke ustadz karena takut kalau pinjam ke teman. Jumlahnya hanya 15.000. Mungkin kalau sekarang senilah lima puluh ribu rupiah.

Hal terburuk adalah mereka bisa jadi mengambil uang. Tentu hal ini jadi masalah besar. Jangan sampai. Tapi memang harus tetap diingatkan pola jajan. Jangan boros, harus ini dan itu. Intinya kalau anak dari pondok telpon, rata-rata minta uang. Percayalah uang itu hanya untuk jajan saja, bukan yang macam-macam. 

Pendamping Hidup di Pesantren

Kalau Anda punya kenalan di pesantren, sangat penting untuk titip anak tersebut. Bisa jadi ustadz, atau kakak kelas. Karena bagaimanapun anak pasti punya masalah. Maka selayaknya agar anak betah di pesantren melakukan hal tersebut. 

Jika memang tidak punya, jangan malu untuk mendekati ustadz dan menyampaikan untuk menitipnya. Biasanya ada yang namanya wali kelas, atau pembina kamar. Tidak apa-apa sampaikan segala sesuatunya. 

Di pesantren hal tersebut lumrah, karena dulunya ustadz juga menjadi santri dan mengalami hal yang sama. Oleh sebab itu ini salah satu cara agar anak betah di pesantren. 

Doa Agar Anak Betah di Pesantren

Saya sering ditanya doa apa agar anak betah di pesantren. Saya jawab yang penting didoakan, pakai bahasa indonesia saja tidak apa-apa. “Ya Allah semoga anak saya betah di pesantren”. Kalau bisa dipanjatkan waktu tahajud.

Suami istri harus mendoakan bersama-sama. Jangan salah satu saja. Bahkan saya menemukan satu keluarga berpuasa Senin Kamis sembari berdoa agar anak terakhirnya betah mondok di pesantren. 

Doa ini pengaruhnya sangat besar. Karena bagaimanapun masuk pesantren adalah sebuah nikmat dan hidayah dari Allah baik untuk anaknya atau untuk orang tuanya. Jadi harus rutin didoakan agar Allah terus memantapkan keimanan sang anak.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *