5 Fakta Santri Kalong dan Santri Mukim di Pesantren

Posted by

Santri kalong dan santri mukim merupakan istilah yang populer di kalangan pondok pesantren. Bahkan di brosur-brosur juga sering dicantumkan istilah santri kalong dan santri mukim. Bagi Anda yang belum mengetahui tentu penasaran.

Karena setiap status santri memberikan konsekuensi. Santri kalong ada konsekeunsinya, santri mukim ada konsekuensi untuk segala aspeknya di dalam pesantren. Kami akan mengulas beberapa faktanya berdasarkan pengalaman dan perhatian di beberapa pesantren.

Arti Santri Kalong di Pesantren

Santri kalong adalah siswa di pesantren yang tidurnya masih di rumah. Artinya tidak dua puluh empat jam berada di pesantren. Biasanya berangkat sore untuk pembelajaran diniyyah atau agama. Lalu mengapa disebut kalong.

Kalong merupakan bahasa jawa dari kelelawar yang hidup di waktu malam dan tidur di waktu pagi hingga siang hari. Maka santri kalong bermakna orang yang hidup di malam hari untuk menuntut ilmu.

santri kalong dan santri mukim

Dulu pesantren memang umumnya dimulai selepas subuh, tapi dhuha hingga dhuhur tidak banyak terisi kegiatan. Kyainya ke sawah, atau berdagang. Baru sore hari akan dilaksanakan pendidikan di pesantren hingga malam hari. Sehingga santri harus menyesuaikan.

Arti Santri Mukim di Pondok

Kebalikan dari santri kalong adalah santri mukim. Santri mukim berarti hidup dua puluh empat jam di pesantren dengan kondisi pendidikan yang sudah disesuaikan dari pagi hingga malam hari. 

Santri mukim juga berarti menyerahkan pendidikan sepenuhnya kepada kyai pesantren, sudah seperti orang tuanya. Sehingga santri mukim dari makan hingga tempat tidur mengikuti pola di pesantren.

Sejarah Santri Kalong dan Mukim

Dari sejarah, dulunya pesantren adalah lembaga pendidikan yang berbasis kyai dan masjid. Ingin mengaji di kyai. Inilah basis utama. Sehingga modelnya seperti sorogan dan bandongan. Ingat pendidikan berbasis kurikulum kelas dibawa oleh kolonial ke Indonesia. Sedangkan pesantren tradisional.

Artinya kyai memang tidak sepenuhnya menyediakan tempat tinggal di pesantren. Sehingga santri wajib kembali ke rumah masing-masing, atau bahkan menginap di warga. Jika ada yang menginap pasti ikut di rumah kyai, entah sebagai tenaga bersih-bersih atau yang lainnya.

Sedangkan santri mukim dengan sendirinya berjalan semakin membesar, yang awalnya di rumah kyai, semakin banyak yang ingin tinggal terutama karena ingin mendapatkan karomahnya kyai. Kyai kemudian berpikir untuk memiliki tempat menampung santrinya. Maka hingga kini semakin banyak pesantren mukim.

Lebih Baik Santri Mukin atau Kalong?

Memang kalau ditanya lebih baik mana santri kalong dan santri mukim. Jawaban kami masing-masing ada kelebihan. Pertama, kalau santri kalong, mereka masih bisa mengabdi pada orang tua, juga merasakan pendidikan formal di tempat yang diinginkan. 

Sedangkan santri mukim secara pendidikan penuh berada di pesantren. Sehingga memiliki lingkungan yang sangat kondusif untuk belajar dan membentuk karakteristik santri. Tentu pada akhirnya di era pergaulan bebas seperti sekarang santri mukim jauh lebih aman. 

Namun memang dari sisi biaya santri mukim jauh lebih besar. Karena ada biaya untuk makan, ada juga biaya untuk tempat tinggal. Padahal hidup di pesantren paling banyak biayanya untuk dua hal tersebut. 

Kedudukan Santri Kalong dan Santri Mukim di Era Modern

Bagi pesantren di era modern, entah jenis salafiyah atau modern (selengkapnya jenis pesantren di sini), lebih mengharapkan hadirnya santri mukim. Bukan persoalan untung rugi dari biaya, tapi lebih kepada pembentukan karakter santri. 

Di era pergaulan bebas seperti sekarang, pendidikan di pesantren yang ketat bisa luntur ketika santri bergaul di luar pesantren dengan orang-orang yang kurang baik dalam pergaulan. Sehingga pendidikan agamanya kurang baik. 

Di sisi pesantren juga lebih mudah untuk mendidik santri yang mukim plus luar kota. Karena tidak mudah bolak-balik pulang. Bayangkan Anda punya anak yang suka ngelayap. Pasti tidak mudah mencarinya. Begitu pula dengan santri di pesantren. 

Maka hampir banyak pesantren sudah menerapkan pendidikan santri mukim. Contoh Darul Hikam Mojokerto, Gontor Ponorogo, dan lain sebagainya. Awalnya ada santri kalong, kini semua mukim. Kalaupun ada santri kalong ada dua sebab. Pertama, berkenan memfasilitasi santri yang demikian, atau memang karena batasan kemampuan pesantren. 

Intinya santri kalong dan santri mukim tetap santri. Hehehe. Salah satu sumber wikipedia.com

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *