Pimpinan Pondok Pesantren Gontro

KH. Abdullah Syukri Zarkasyi | Cara Gontor Memperkuat Jaringan

Posted by

KH. Abdullah Syukri Zarkasyi merupakan putra sulung dari KH. Imam Zarkasyi, pendiri pesantren Gontor. Yang selanjutnya diamanahi menjadi pimpinan Gontor Ponorogo sejak 1985 bersama KH. Hasan Abdullah Sahal dan KH. Shoiman Luqmanul Hakim.

Yang menarik dari KH. Abdullah Syukri Zarkasyi adalah bagaimana cara memperluas jaringan pesantren Gontor, bahkan menjadikan Gontor memiliki cabang yang cukup banyak di penjuru Indonesia. Kami rangkum dari media Warta Dunia Gontor juga obrolan ringan dengan beberapa teman yang interaksi dengan sosok kelahiran 19 September 1942.

Profil KH. Abdullah Syukri Zarkasyi

Sebelum lebih jauh membahas tentang bagaimana kiprah dan inspirasi dari beliau, kami akan sedikit mengulas profil KH. Abdullah Syukri Zarkasyi. Sosok tegas ini adalah santri Gontor yang lulus pada tahun 1960.

Kemudian melanjutkan studi di IAIN Syarif Hidayatullah dan mendapatkan gelar sarjana di 1965. Melanjutkan ke Al Azhar Kairo pada tahun 1976, selanjutnya mendapatkan gelar MA di universitas yang sama pada 1978.

Profil KH. Abdullah Syukri Zarkasyi

Selepas belajar panjang, suami dari Hj. Indra Sudarsi ini mengabdi penuh di Gontor. Kala itu pimpinan Gontor hanya ayahnya, KH. Imam Zarkasyi, sedangkan dua trimurti yang lain sudah meninggal. Baca cerita tiga pimpinan Gontor di sini.

Delapan tahun tepatnya KH. Abdullah Syukri Zarkasyi belajar kepada sang ayah. Terutama dua tahun terakhir sebelum kepergian KH. Imam Zarkasyi. Di situ benar-benar belajar bagaimana memimpin pesantren.

Karakter Totalitas untuk Gontor

KH. Abdullah Syukri Zarkasyi dikenal sebagai sosok yang jeli, cermat, menguasai masalah, bahkan kalau ada guru bagian pemeliharaan yang menghadap harus tahu berapa rasio kamar mandi yang baik untuk santri, kran yang nyala dan mati. Sehingga bisa mendidik santri dengan baik.

Yang kedua adalah totalitas yang tidak pernah padam. Pulang ke pesantren jam satu dini hari, pagi selepas subuh sudah keliling pondok. Hal ini biasa dilakukan. Dua puluh empat jam waktunya diberikan penuh untuk Gontor.

Yang ketiga tidak ada waktu leha-leha. Semasa menjadi santri kami selalu dengar nasehat dari beliau, “No time for ecek-ecek”, ada lagi kata-kata yang sering keluar, “Harus all out”. Tidak lupa mentarget, “Satu hari harus bisa menyelesaikan sekian masalah.”

Semangat, itulah yang selalu terlihat dari sosok KH. Abdullah Syukri Zarkasyi. Semangat itu tidak pernah padam. Kalau berpidato sangat lantang, dan tidak pernah lepas menyebut nama Gontor. “Gontor ini berdiri di atas dan untuk semua golongan.”

Pencetak Kader-kader Andal

Bisa dikatakan salah satu yang dikenang dari sosok Almarhum KH. Abdullah Syukri Zarkasyi adalah kaderisasi yang beliau lakukan, cara beliau mengkader akan sangat dikenang. Salah satu yang selalu diingat adalah, “Sebagai pimpinan Pesantren Gontor, tugas saya adalah mendidik kehidupan.”

Dari beliau inilah istilah kaderisasi adalah penugasan selalu didengar. Santri ditugaskan memimpin unit usaha, dipanggil, dimonitor, dievaluasi. Bahkan sebuah anugerah bisa dimarahi karena dari situlah mengetahui bagaimana yang benar.

Sifat feodal benar-benar dikikis. Sering kali terlihat ada waktu khusus bagaimana beliau meminta guru mencuci mobil. Agar sifat merasa besar hilang. Dilatih terus dengan amanat, amanat yang kecil hingga besar.

Memperluas Jaringan Gontor

Dari buku warta dunia, ada satu aspek menarik, bagaimana pesantren Gontor dibesarkan melalui jaringan. Beliau menjadi Pengurus Pusat Majelis Ulama Indonesia, menjadi Ketua Pertimbangan Pendidikan dan Pengajaran Agama kementrian Agama RI.

Tidak lupa membangun jaringan pesantren alumni Gontor. Jika datang ke Jakarta menyempatkan silaturahim ke pesantren alumni. Kegiatan ini seperti rutin dilakukan. Bahkan dari Gus Azmi kami mendapatkan pesan beliau, “Kata bapak, merekalah yang akan memperkuat Gontor.” Saling memperkuat antar pesantren.

Tidak hanya itu, di masyarakat Ponogoro, KH. Abdullah Syukri Zarkasyi juga memperluas jaringan Gontor. Caranya, membina masyarakat melalui jaringan warok, mendirikan ratusan masjid, ratusan TPQ/TPA, bahkan puluhan pesantren.

“Semua saya lakukan untuk memperluas jaringan Gontor, menguatkan dan membentengi Gontor,” begitulah kalimat dari KH. Abdullah Syukri Zarkasyi dalam buku warta dunia.

Wardun

Capaian Bersejarah KH. Abdullah Syukri Zarkasyi

Didampingi pimpinan lainnya, KH. Hasan Abdullah Sahal, KH. Shoiman Luqmanul Hakim, KH. Imam Badri, KH. Syamsul Hadi Abdan, beberapa capaian bersejarah sudah dilakukan oleh KH. Abdullah Syukri Zarkasyi.

Di antaranya adalah penyetaraan ijazah KMI dengan SMA atau sederajat oleh Kemenag dan Kemendikbud. Penyerahan beragam tanah wakaf untuk kampus cabang Gontor termasuk lahan produktif.

Masuknya sistem mu’allimin ke dalam pendidikan nasional. Ini adalah kurikulum Gontor yang bisa dibaca lengkap di sini. Hadirnya kampus ISID dan bertranformasi menjadi Universitas Islam Darussalam menjadi anggota Liga Universitas Islam Dunia.

Bahkan mendapatkan gelar Doktor Honoris Causa dari UIN Syarif Hidayatullah pada tahun 2005. Yang paling fenomenal tentu jumlah santri Gontor ketika ayahnya meninggal sekitar 2.689, naik sangat pesat menjadi hampir 18.000 dengan 15 cabang Gontor di seluruh Indonesia.

Sosok beliau sangat luar biasa, salah satu pesan yang kami ingat adalah, “Cara kita bersyukur, harus bekerja lebih baik lagi.” Semoga kisah dan cerita tentang KH. Abdullah Syukri Zarkasyi ini bisa bermanfaat.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *