Keindahan Novel 29 Juz Harga Wanita

Sejujurnya saya terkesima dengan judul dari novel ini, 29 Juz Harga Wanita. Judul yang menandakan ada nuansa Islam yang sangat kental dan dipersembahkan untuk para wanita yang mungkin tidak mengerti seberapa mahal harga dirinya. Sekali saya membaca judul ini langsung tertarik untuk membacanya.

Novel ini dibuka dengan adegan seorang laki-laki yang bernama Toni Saputra. Berprofesi sebagai tukang batu. Toni kemudian mengantarkan batu kali ke sebuah pondok pesantren dengan truk bersama satu teman lainnya, kuli. Ketika ada santri memberikan minuman dan makanan, saat itulah Toni jatuh terpesona dan jatuh hati.

Saya mengira ini adalah kisah klise antara dua orang yang beda derajat, kaya dan miskin. Tapi ternyata tidak, perbedaan derajat yang diangkat justru dalam persoalan agama. Naela yang sangat paham dengan agama, Toni sangat awam dengan agama. Toni mencintai Naela seperti orang gila.

Saya kemudian menebak bahwa Toni akan berusaha mati-matian mengejar, dan diterima. Kenyataannya juga tidak, Toni ditolak Naela. Persoalan inilah yang sangat menarik dari novel karya Ma’mun Affany ini. Wanita tidak harus takluk di hadapan laki-laki. Wanita punya harga diri yang sangat tinggi. Meski laki-laki mengejar mati-matian, kalau agama tidak baik ditolaklah dengan halus.

Cara menolaknya pun sangatlah unik, Naela memberikan al Quran sebagai kenang-kenangan. Dari situlah sesungguhnya bermula cinta Toni pada Naela. Toni berusaha mati-matian belajar agama, dan membaca al Quran. Usaha Toni sebagai laki-laki mengejar Naela patut diacungi jempol. Hingga kemudian Toni ingin mengucapkan ribuan terimakasih karena sudah mengajarkan agama melalui cinta.

Keindahan dalam novel ini adalah memberikan pesan agama tapi sangat halus sekali. Bahkan kita tidak sadar bahwa novel ini memasukkan nilai-nilai moral di banyak dialognya. Di sinilah kehebatan Ma’mun Affany mengolah cerita dan kata. Ma’mun Affany memang dikenal sebagai penulis cerita-cerita roman bernuansa Islam dengan romantisme kental. Kehormatan di Balik Kerudung, Satu Jodoh Dua Istikharah, dan lain sebagainya adalah buah karya yang amat dicintai pembacanya.

Salah satu dialog yang sangat saya suka adalah di halaman 196 ketika Toni membaca Quran di hadapan Naela, “Kakak sudah bisa baca Qur’an sekarang?”

“Alhamdulillah Nae… dulu kakak malu membuka Qur’an.”

“Siapa yang mengajari kakak?”

“Seorang Nenek Nae, setiap habis subuh kakak belajar, setelah isya kakak mengulang, kakak terus berusaha.”

“Untuk siapa semua itu, Kak?” Naela ingin tahu.

“Untukmu Naela… dari dulu kakak katakan jika semuanya untuk Naela,” Toni menutup Qur’an, “Entahlah, Kakak sendiri tidak tahu kenapa sudi mencari Naela sampai di sini. Tiga minggu kakak datangi tiap pondok pesantren di Kediri, selalu tanyakan nama Naela, Naela Khasna. Kakak pernah diusir, pernah dipaksa pergi, hujan panas sudah menyatu semuanya, setiap malam kakak bermalam di masjid dan mushala, setiap waktu kakak berdoa agar diberikan kesempatan oleh Allah agar bisa bertemu Naela.”

Naela pejamkan matanya, “Kakak tidak letih?”

“Semua sudah hilang Naela.”

Dialog ini sangat menunjukkan bahwa cinta sangat menuntut pemahaman agama. Wanita dengan santun meminta laki-laki untuk bisa membaca Quran, bisa beribadah, dan laki-laki melakukannya demi cinta. Perubahan inilah yang kemudian menginspirasi saya untuk bisa mencontoh tokoh-tokoh yang ada dalam novel tersebut. Ma’mun Affany memberikan kita inspirasi melalui tokoh dengan sangat santun namun mengena.

Apalagi novel 29 Juz Harga Wanita bercerita dengan alur yang cukup padat, terasa sedikit cepat, sehingga kita sulit melepas buku ini jika belum tuntas. Anda seperti diminta untuk selalu penasaran dengan episode-episode yang akan disajikan di lembaran-lembaran berikutnya. Meski novel ini tebalnya 360 halaman, namun tidak begitu terasa ketika membaca karena keindahan alur dan cerita 29 Juz Harga Wanita.

Novel ini sangat direkomendasikan bagi siapa saja yang ingin cinta dengan balutan agama yang kental namun romantis. Jika perempuan, akan mencontoh sosok Naela Hasna, wanita yang dengan teguh memegang agama dan menjaga jarak dengan cinta, bahkan bisa mengubah laki-laki yang mencintainya.

Jika yang membaca laki-laki, mungkin satu sisi sangat mendamba Naela, di sisi lain harus menyadari bahwa laki-laki harus menjadi sholeh untuk mengejar wanita solecha. Saya masih ingat novel 29 Juz Harga Wanita di halaman 116

Aziza benarkan selimut Toni, “Kak Toni jangan menangis, lebih baik kak Toni perbaiki diri kakak, teruslah berusaha untuk lebih baik, kalaupun berjodoh, Allah tidak akan pernah jauhkan Naela dari kak Toni. Allah selalu melihat usaha kita, Allah akan membalasnya dengan harga yang sama.”

Oleh sebab itu jika Anda pecinta novel-novel cinta romantis bernuansa Islam kental, novel 29 Juz Harga Wanita sangat cocok sekali. Ma’mun Affany tidak hanya menghadirkan cerita indah dan romantis, tapi juga pelajaran yang menghibur dalam novel 29 Juz Harga Wanita. Selamat membaca.

Share This:

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *