SMP Luqman Hakim Surabaya

Pengalaman Mondok di Gontor Putri Sulit Dilupakan

Posted by

Pengalaman mondok di Gontor Putri bisa dibilang pengalaman yang tidak akan pernah terlupakan. Dari masuk hingga lulus, sudah ratusan kali mendapat pertanyaan dari orang-orang seperti apa rasanya mondok di Gontor Putri.

Nah agar tidak semakin penasaran, pada kesempatan kali ini penulis ingin berbagi pengalaman selama mondok di Gontor putri.

Lingkungan Pondok Gontor Putri

Jika diingat-ingat alasan kenapa ingin masuk pondok, ya karena langsung terkesan ketika menjenguk kakak di Gontor. Bagaimana riuhnya suara orang-orang yang belajar di kelas, berduyun-duyun berangkat ke masjid, dan syahdunya alunan suara orang mengaji di masjid.

Hingga pada akhirnya masuk pondok dan shock culture merasakan sendiri apa yang sudah pernah dilihat sebelumnya. Riuh ramai di lingkungan seluas tujuh hektar lebih.

Pengalaman Mondok di Gontor Putri
Ustadzah Pesantren Putri Gontor

Ketika di rumah, semua serba mudah. Tapi di pondok keadaan mulai berbeda, serba antri, tidak boleh membawa hape, jauh dari orang tua, dan semua hal dilakukan sendiri alias mandiri.

Meski dengan segala keterbatasan, lingkungan pondok justru membawa banyak hal positif yang membentuk karakter dan juga mental. Di pondok belajar menghemat uang, menggali potensi diri, mengatasi masalah yang ada, hingga menjaga kebersihan diri.

Maklum saja namanya juga hidup bersama dengan banyak orang, kadang ada hal tidak terduga. Contoh kongkret problematika santriwati putri adalah terkena kutu, kalau tidak rajin mencuci dan menyisir rambut, siap-siap saja ada kutu. Aduh!

Punya Banyak Teman di Gontor

Ketika pertama masuk pondok jangan takut tidak punya teman, karena santriwati baru biasanya satu kamar dengan santriwati baru juga.

Jika di SD punya 20-30an teman, maka di pondok bisa punya ratusan sampai ribuan teman. Dari berbagai daerah di Indonesia pula, bahkan ada beberapa dari luar negeri seperti Malaysia, Thailand, dsb.

Berteman dengan orang-orang dari berbagai suku juga daerah, pastinya mempunyai sifat dan kepribadiannya masing-masing. Harus pintar-pintar bergaul, karena berada dalam satu atap yang sama, sangat mudah terpengaruhi dengan kebiasaan teman.

Kalau berteman dengan yang jorok, wassalam kita jadi ikutan jorok juga. Itulah mengapa skill memilah, memilih, dan menyaring teman sangat dibutuhkan. Tapi tenang, tidak semua santriwati begitu kok.

Pengalaman Mondok di Gontor Putri

Pendidikan di Pesantren Gontor adalah pendidikan sepanjang hayat, disiplin, sederhana, dan penuh pelajaran hidup. Selama nyantri, santriwati didik untuk menjadi guru bukan hanya untuk orang lain tapi juga untuk diri sendiri.

Kurikulum yang digunakan adalah kurikulum KMI yang terjaga (tidak pernah berubah). Mata pelajarannya ada banyak dengan dua bahasa pengantar (Arab-Inggris), sungguh tidak mudah untuk dilalui apalagi jika tidak punya basic ilmu agama dan kemampuan berbahasa.

Tapi dari sinilah arti pengorbanan dan perjuangan menuntut ilmu sangat terasa nikmatnya.

Pondok mengajarkan seperti apa pendidikan sama rata. Entah santriwati kaya, miskin, pintar, dan kurang pintar sekalipun tetap diajarkan dengan sepenuh hati.

Kami semua belajar dan diajar bersama, dan kemudian kami dilatih untuk bisa memberikan arti (pelajaran) dengan sesama ketika di masyarakat. Ini pengalaman mondok di Gontor Putri yang paling berkesan.

Belajar Berorganisasi

Kegiatan harian pondok itu bisa dibilang sangat padat. Semua harus bergerak cepat, rajin, dan tidak boleh malas-malasan. Kalau terlambat, tentu ada hukuman yang menunggu di depan mata.

Salah satu motto pondok adalah “Siap Dipimpin dan Siap Memimpin”, para santriwati dilatih untuk menjadi pemimpin diri sendiri dan orang lain. Belajar memimpin diri sendiri melalui manajemen waktu, dan belajar memimpin orang lain dengan organisasi.

Organisasi di pondok sendiri ada tiga jenisnya yakni OPPM (organisasi pelajar), koordinator pramuka, dan unit usaha pondok. Jabatan atau peran yang diamanahkan kepada santriwati merupakan hasil pertimbangan pondok berdasarkan banyak kriteria, kemampuannya berorganisasi, nilai akademik dan bagaimana kepribadiannya.

Jadi jika seorang santriwati memiliki kemampuan memimpin dengan baik, berkarakter, disertai nilai akademik bagus, maka akan diamanahkan jabatan yang sesuai kapabilitasnya.

Pun sebaliknya, hal ini dimaksudkan agar tujuan santriwati mondok untuk menuntut ilmu tidak terpengaruh dengan amanah yang diberikan.

Pengalaman Mondok di Gontor Putri Waktu Makan

Apakah makanan di pondok itu enak? Jawabannya enak kok. Lauknya apa saja? Lauknya macam-macam, ada tahu/tempe bacem, ayam, telur goreng, lele goreng, dan lauk yang paling sering disajikan di pondok itu “sate” alias sayur tempe/tahu.

Jika ingin tahu jenis-jenis lauk yang ada di pondok bisa lihat artikel yang pernah kami bahas di sini.

Selain pertemanan, hal lain yang terkenang saat mondok adalah kegiatan makannya. Waktu awal nyantri terkaget-kaget karna harus antri panjang untuk makan, lauknya pun terbatas, setiap santri sudah dijatah, tidak bisa lebih, meskipun bebas mau ambil nasi sebanyak apapun.

Belum lagi perut yang harus adaptasi dengan masakan pondok yang khas dengan cita rasanya. Kadang pedas, kadang hambar, atau malah tidak makan karena telat datang.

Namun porsi cerita sedih yang disebutkan tadi tidak sebanyak cerita senangnya, seperti makan bersama (kami menyebutnya tajammu’) di atas daun pisang yang dijejer panjang, masak mi bersama, hingga buka puasa bersama di masjid dengan snack gratisan.

Demikianlah lika liku pengalaman mondok di Gontor putri. Susah, sedih, dan senang yang dialami merupakan proses alami yang silih berganti semasa menjadi seorang santriwati di rantauan. Jadi sudah siap mondok di Gontor Putri?

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *