Pondok Pesantren Terbaik di Jawa Timur

Berbicara pondok pesantren di Jawa Timur, sebenarnya sama saja berbicara pondok pesantren di Indonesia. Hampir semua pondok pesantren di Jawa Timur adalah pondok terbaik di Indonesia. Barometer bagusnya pondok di antaranya adalah seberapa kuat memegang kualitas, nilai-nilai leluhur, kualitas alumni, dan juga seberapa populer di Google pondok-pondok pesantren tersebut. Sehingga akumulasi dari ini menjadikan beberapa pondok pesantren yang kami sebutkan adalah pondok pesantren terbaik di Jawa Timur

  1. Sidogiri, Pasuruan

Jika Anda belum ke Sidogiri, maka lebih baik sempatkan dalam hidup ke pondok ini. Pondok ini hampir menyatu dengan desa. Jika dilihat dari jalan raya saja, sudah ada batas-batas yang tidak boleh dilewati oleh santri. Minimarket, Baitul Maal, dan banyak toko sudah menyatu dengan desa.

Dari jalan raya pondok ini terlihat biasa, tapi kalau masuk ke bagian-bagian desa, Anda baru sadar bahwa ternyata hampir semua bagian desa adalah pondok pesantren. Hal ini terjadi karena pondok putra dan putri secara asrama terpisah, namun secara wilayah tidak begitu jauh. Sehingga jumlah akumulatif sangat banyak.

Sidogiri selama ini dikenal dari usaha dan BMT, namun sebenarnya Sidogiri adalah salah satu pondok tertua yang mempertahankan cara belajar, dan materi ajar dari dulu hingga sekarang. Mereka masih bersarung, menggunakan kitab kuning dan sorogan. Hapal alfiyah menjadi salah satu yang paling didambakan. Kalau pagi selepas subuh punya kesempatan lewat belakang asrama, Anda akan mendengarkan santri menghapal bersama nadzam (bait-bait kaidah).

Jangan dikira pondok ini kuper karena sarungan. Pondok ini justru cukup kuat dalam mengikuti perkembangan zaman. Santri mereka bisa menciptakan aplikasi, bahkan ketika saya hadir di sana untuk sebuah acara, dokumentasi yang dilakukan sangat Andal oleh santri-santri bersarung dan berkopyah putih.

Alumni pondok pesantren sidogiri rata-rata melahirkan pondok-pondok pesantren. Seperti Tebu Ireng, KH. Hasyim Asy’ari, pernah belajar di pondok ini, pimpinan pondok Nurul Jadid Probolinggo juga demikian. Pondok Sidogiri adalah gudang para kyai.

  1. Gontor, Ponorogo

Nama asli pondok ini adalah Darussalam, namun nama itu tenggelam dengan kemasyhuran nama desa Gontor. Di mata masyarakat Gontor lebih dikenal sebagai pondok dengan alumni berprestasi. Pondok ini besar memang karena alumninya. KH. Hasyim Muzadi, Din Syamsudin, Hidayat Nur Wahid, Mafturh Basuni, dll.

Kalau masalah pembelajaran agama, pondok ini memiliki kurikulum sendiri. Tidak sama dengan depag atau diknas. Namun pondok ini memiliki alumni yang dikenal banyak belajar di luar negeri, baik barat maupun timur. Penguasaan dua bahasa, Inggris dan Arab yang cukup baik menjadi kunci.

Pondok Gontor yang terletak di Ponorogo dikenal dengan disiplin sangat tinggi ala militer. Waktu diatur dengan cukup ketat. Permenit cukup berharga di Pondok ini. Sehingga lebih cocok disebut pondok tempat pendidikan para calon pemimpin. Biasanya anak pimpinan pondok, kader organisasi, bahkan anak pimpinan perusahaan diletakkan di sini.

Uniknya, dari pondok ini lahir tidak hanya para kyai, tapi justru di semua bidang. TNI dan Polri ada, pilot ada, penulis, pengusaha, politikus. Bahkan menurut kami, apa yang menjadi bakat anak sebelum masuk pondok Gontor akan lebih matang diasah di salah satu pondok terbaik di Indonesia.
Jika ada yang menyebut Pondok Modern, maka Gontor menjadi rujukannya, karena hampir semua pondok modern di Indonesia berkiblat pada pondok ini. Darunnajah, Al Amin Parinduan adalah dua pondok yang didirikan oleh Alumni Gontor di antara ratusan pondok modern lainnya.

3. Darul Hikam, Mojokerto

Darul Hikam Mojokerto adalah pondok pesantren kombinasi antara salaf dan modern secara sistem namun menitik beratkan kepada sekolah unggulan yang menghasilkan siswa berprestasi. Pondok ini polanya setiap pagi menempuh pendidikan di SMP dan SMA, dengan penekanan pada fokus pembelajaran pada bidang yang disukai siswa. Sejak kelas tertentu sudah diarahkan kepada minat dan bakat siswa. Sehingga prestasi dari pondok ini tidak hanya dalam skala  Jawa Timur saja, namun hingga juara lomba di tingkat internasional. Seperti lomba robotik yang diadakan di Osaka Jepang. Juga juara tiga sains tingkat nasional di tahun 2016. Semua karena santri menyukai yang dipelajari.

Pola pendidikan antara salaf dan sekolah unggulan di pondok ini berhasil diporsikan dengan seimbang dan disatukan berkat menggunakan sistem modern dalam keseharian. Dari bangun tidur hingga tidur diatur sedemikian rupa dengan disiplin tinggi khas pondok Gontor. Bahkan yang di luar dugaan, pondok ini menggunakan sertifikasi ISO dalam pola manajemennya.

Padahal ISO seringkali digunakan oleh perusahaan-perusahaan agar bisa menetapkan standar tinggi. Efeknya santri yang ada di dalamnya ditata dengan baik, pendidikan yang didapatkan juga cukup berkualitas, dengan output santri-santri berkualitas.  Jika Anda ingin menjadi siswa berkualitas dan cerdas yang ditempat sesuai minatnya dengan tingkat ibadah yang baik, Darul Hikam Mojokerto adalah tempat yang tepat.

Selain itu pondok ini juga menerapkan terapi bagi anak-anak yang terdeteksi nakal dari rumah. Caranya dengan memondokkan di pondok-pondok sekitar dalam jangka waktu tertentu. Jika sudah membaik akan dimasukkan di pondok utama dengan terapi dzikir dan pendampingan intensif. Kyai di pondok ini menyampaikan, bahwa dirinya menerima jika pondoknya disebut sebagai bengkel anak nakal.

Hal ini tampak dari Motto dan Visinya yaitu melahirkan generasi cerdas, Qur’anic, tradisionalis, dan Global Oriented.

4. Langitan, Tuban

Langitan adalah salah satu pondok salaf paling dikenal di wilayah Jawa Timur. Secara garis besar hampir sama dengan Sidogiri, pola pembelajaran, identitas pakaian, bahkan apa yang dipelajari di dalamnya. Jenjang pendidikannya dari RA, Ibtidaiyyah, Tsanawiyah, hingga Aliyah. Gedung-gedungnya pun cukup besar. Namun ada beberapa identitas penting dari pondok langitan yang patut menjadi rujukan terbaik.

Pondok langitan sangat memegang teguh prinsip kode etik yang selalu menjadi contoh pondok lain. Memilih Ilmu Guru dan Teman, Mengagungkan Ilmu dan Ahlinya, Beradab Terhadap Masayikh dan Keluarganya, Beradab terhadap Asatidznya, Beradab terhadap Kitab, Beradab Kepada Teman Belajar.

Meskipun pondok ini juga menjadi kiblat bagi NU, namun pondok ini sangat melarang merokok.  Bagi pondok ini kesalahan merokok hampir mirip dengan kesalahan jika tidak melakukan shalat berjama’ah. Jika ada yang melanggar langsung berurusan dengan kyai. Di pondok ini pula diskusi-diskusi kebangsaan terjadi.

Hal menarik lain dari langitan adalah seni shalawatnya yang cukup tinggi dan memiliki nilai nasional. Ciptaan-ciptaannya bagus, suaranya juga cukup baik. Bahkan nama langitan sangat dikenal dengan shalawat-shalawatnya.

5. Lirboyo, Kediri

Jika berbicara Jawa Timur adalah berbicara pondok salaf, maka itu benar. Lirboyo juga demikian, pondok salaf yang mengkaji kitab-kitab kuning dengan mendalam. Antara Sidogiri, Langitan, dan Lirboyo dalam persoalan pembelajaran hampir mirip, setiap ramadhan juga ada mengaji pasaran, di mana dari luar pondok pun bisa mengikuti mengaji masal.

Tapi berbicara Lirboyo, maka tidak bisa disingkirkan dari yang namanya komplek pondok kecil-kecil dan besar-besar. Maksudnya, Lirboyo tidak hanya satu lingkungan pondok besar dalam satu naungan manajemen, namun juga ada pondok-pondok kecil yang berkumpul menjadi satu dalam sebuah wilayah yang dinaungi oleh kyai-kyai. Model ini kemudian banyak yang meniru. Entah memang dari lirboyo, atau bukan, namun salah satu pondok besar yang melakukan ini adalah Lirboyo. Jika di Jawa Tengah, seperti di Kajen.

Yang menjadi kelebihan dari Lirboyo salah satunya adalah daya kritis yang tinggi yang dituangkan dalam bahsul masail, dan dituliskan dalam buku. Ini bukan hanya sekali dua kali, namun juga sudah menjadi budaya. Sebenarnya hal ini juga dilakukan oleh Sidogiri, namun demikian menurut penulis Lirboyo lebih produktif. Sehinga santri dari pondok Lirboyo jika ingin ke jenjang universitas menjadi cukup baik dalam berpikir, dan menganalisa persoalan. Inilah yang kemudian menjadi salah satu identitas yang tidak banyak dimiliki pondok lain.

6. Al Fatah, Temboro

Pondok ini begitu mashur akhir-akhir ini karena banyak video-video beredar tentang kampung madinah, Temboro. Pondok Al Fatah di Temboro lain dari empat pondok yang sudah disebutkan. Secara pendidikan bisa dikatakan standar, ada sekolah umum, ada pembelajaran khusus al Quran, hadist, tafsir, dan beragam pelajaran khas pondok pesantren lainnya. Namun yang berbeda dari pondok ini adalah suasananya.

Pondok ini istimewa karena menciptakan suasana kampung madinah. Tidak dari wujud pakaian yang memakai gamis, namun juga dari pola hidup dan lain sebagainya. Mereka sangat menjaga kebersihan, dan sangat memuliakan tamu. Khas seperti orang arab. Bahkan pendatangnya akan dianggap sebagai Muhajirin yang harus dimuliakan oleh anshar.

Mereka lebih banyak dikenal sebagai jama’ah tabligh yang gemar menyebarkan agama Islam melalui akhlaq dan amal. Ciri yang berada di pondok ini adalah, selalu mengedepankan akhlaq mulia dengan menerima ketetapan Qadha dan Qadhar dari Allah dengan baik-baik. Sehingga mereka menerima dengan lapang dada apa yang diterima mereka.

Bisa dikatakan inti pendidikan di pondok ini adalah keimanan yang diwujudkan dalam perbuatan. Maka kalau berbicara Temboro, sangat berbeda dengan pondok salaf seperti Sidogiri atau Langitan yang mengutamakan ilmu diwujudkan pada perbuatan dan keimanan, juga berbeda dengan Gontor dengan pola modern yang mengutamakan keilmuan dan kedisiplinan dengan dasar keimanan. Oleh sebab banyak banyak pendatang ke al Fattah temboro sangat betah berada di dalamnya. Bahkan penulis menemui sendiri ada yang beli rumah di Temboro demi menemani anaknya m

Share This:

One comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *